[SHARING] Makna Paskah 2012 bagiku

München, 08.April.2012

Paskah tahun ini terasa jauh lebih bermakna bagiku, selain karena merayakannya jauh di perantauan, namun lebih karena saya mendapat “roh” / “api” Paskah yang sebelumnya tak pernah saya sadari.

Dimulai dari masa pra-paskah, selama 40 hari. Tidak hanya melakukan tradisi religi, namun lebih kepada refleksi diri dan mempersiapkan hati. Pertanyaan yang sering kuajukan dalam doa dan refleksi (meditasi-ku) misalnya, adalah :

“Apa yang Tuhan ingin supaya kuperbuat bagi-Nya?”

“Sudahkah saya menemukan Tuhan dalam hidup-ku?” Jika iya, dimana, kapan, dan melalui siapa/apa? Apa yang sudah kuperbuat bagi Tuhan yang kujumpai itu? Sudahkah saya menemukan Tuhan dalam hatiku? Jika tidak, mengapa saya tak bisa menemukan-Nya?”

“Apa makna Paskah bagiku?” “Mengapa dan bagaimana saya menghidupi Paskah ini dalam hidupku?

“Bagaimana saya bisa mengasihi sesama dengan sepenuh hati, sama seperti saya mengasihi diriku sendiri?”

“Mengapa ada penderitaan dalam hidup manusia? Apa yang salah dalam hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya? Bagaimana supaya saya bisa terus berbahagia?”

Dan masih banyak pertanyaan refleksi yang selalu kutanyakan dalam hatiku. Meski saya tidak menemukan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku itu, namun setidaknya saya mendapatkan “pencerahan” melalui doa, meditasi, refleksi, sharing, membaca,  belajar “mendengar, memperhatikan, dan membaca” kehidupan, rekoleksi, dan liturgi gereja yang saya ikuti selama masa pra-paskah sampai paskah ini. Berikut beberapa point yang dapat saya sharingkan sebagai buah-buah pertobatanku :

1. Kabar gembira yang disampaikan oleh ajaran-ajaran agama di dunia ini, termasuk liturgi dan segala aturannya, haruslah membuat hatiku “MELEK, SADAR, mau mendengarkan dan memperhatikan hidup”. Saya tidak ingin “terjebak” dalam rutinitas keagamaan dan liturgi, tanpa tau mengapa saya melakukannya. Saya tidak ingin “hati saya tumpul, apalagi mati”. Dan bagiku, selama ajaran agama ini membuatku memiliki kesadaran (awareness) dan mampu bangun (wake-up) dari kemalasan mental (mental laziness), maka saya akan melakukannya dengan sukacita. Bagi saya, manusia tidak hanya membutuhkan agama dan aturan-aturannya, namun juga harus menemukan “spiritualitas” dan “pencerahan” di dalamnya. Agama adalah salah satu “tools” untuk menjadi manusia menjadi “aware, awake, dan enlightened” (memiliki kesadaran, bangun dari kemalasan mental, dan tercerahkan). Selama ajaran-ajaran agama di dunia ini membantu manusia dan saya mencapai itu, maka sah-sah saja saya melakukannya, namun jika saya dijauhkan dari kesadaran diri, dan pencerahan batin, maka segala rutinitas agama itu adalah “semu” belaka.

2. Makna pertobatan yang saya refleksikan, dapat saya rangkum dalam satu kata dalam bahasa yunani yang indah : “metanoia” atau dalam bahasa inggris (“repentance”) dan dalam bahasa indonesia dapat diartikan sebagai (“tobat/penyesalan”). Makna kata “metanoia” ini secara harafiah berarti “to change / to return”, and or “another way of thinking” (mau berubah dan berbalik, dan atau memiliki cara pandang yang baru terhadap hidup). Pertobatan tidak hanya dengan kata-kata, tangisan, ratapan, namun yang lebih penting adalah “berbalik dari cara hidup yang lama, dan memiliki hidup dan cara pandang yang baru”. Perumpamaan yang saya sukai adalah : kisah tentang “BAPA yang baik” (lihat Injil Lukas 15:11-32) yang didalamnya sarat dengan moment-moment “metanoia” itu sendiri. Klik disini untuk membaca kisahnya dalam Alkitab-online.

3. Manusia tidak dapat hidup tanpa KASIH, karena manusia selalu ingin mengasihi dan dikasihi. Jika manusia hanya mengandalkan kasih dari dirinya dan orang lain (sesama), maka kasih itu adalah terbatas dan tidak sempurna. Dan KASIH yang sempurna adalah berasal dari Tuhan Allah. Dan inti dari misteri Paskah, adalah Kasih Yesus Kristus yang sehabis-habisnya untuk bangsa manusia.

4. Mengapa ada penderitaan dalam hidup manusia? Apa yang salah dalam hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya? Bagaimana supaya saya bisa terus berbahagia?

Jawaban yang masih terus saya refleksikan : Tidak ada yang salah dengan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta. Penderitaan timbul karena “cara pandang / hati manusia” itu sendiri. Dan supaya saya bisa terus berbahagia tanpa hatiku menderita adalah dengan “mengubah cara pandang hidupku dan hatiku”. Karena saya percaya bahwa kebahagiaan sejati adalah tanpa sebab/syarat. Karena kebahagiaan itu sendiri adalah “suatu keadaan hati/jiwaku” bukan sebab dari saya memiliki / meraih ini dan itu.

Kadang manusia berpikir : “Ahh…saya baru akan bahagia jika saya mempunyai uang/materi yg berlimpah, pekerjaan yang baik dan mapan, keluarga yang baik,dst”. Namun, ketika manusia mempunyai semua kelimpahan duniawi, pekerjaan yang nyaman, isteri yang cantik, anak-anak yang sukses; hati dan jiwa manusia masih merasa “hampa dan tidak bahagia”. Ada apa gerangan? Apa yang salah?

Tidak ada. Tidak ada yang salah.

Yang menurut saya salah adalah : Manusia mensyaratkan kebahagiaan hidupnya pada sesuatu (entah itu harta duniawi/materi, jabatan, kesuksesan, popularitas, punya banyak teman,dst.) Padahal kebahagiaan itu sendiri tak bersyarat. Kebahagiaan sudah ada sebelum manusia ada. Dan tanpa manusia pun, kebahagiaan akan tetap ada. Kebahagiaan absolut/sejati adalah tak bersyarat, karena kebahagiaan adalah suatu keadaan (state of being) dan bukan tujuan.

Lha, terus bagaimana supaya hidup saya bisa berbahagia? Dan mengapa masih banyak penderitaan dalam hidup manusia?

Supaya manusia bahagia, dia hanya perlu “mengubah cara berpikir dan cara pandangnya”. Dia perlu berubah! Aha…Metanoia! Ya, pertama-tama saya harus mengubah cara pandang saya, bahwa kebahagiaan dalam hidup saya tidak bersyarat. Saya tidak harus kaya-raya, memiliki jabatan tinggi, keluarga yang sempurna,dst. Yang perlu saya lakukan adalah :

  • Menghilangkan keterikatan saya pada candu duniawai dan mengubahnya pada kebahagiaan yang tanpa syarat (drop my attachment to world feeling and change to absolute and unconditioned happiness)
  • Uang, materi, jabatan, hingar-bingar duniawi, pesta-pora ragawi, kesuksesan, popularitas, punya banyak teman dan candu-candu duniawi yang lain tidak menjamin jiwa manusia berbahagia.
  • Kebahagiaan yang selalu kita cari melalui dunia, sebenarnya sudah ada dalam diri kita. Banyak orang berusaha mencari kebahagiaan di luar dirinya, melalui orang lain, atau materi dunia, namun dia lupa, bahwa dalam jiwanyalah terletak sang kebahagiaan sejati.
  • Jadi, dengan “masuk” ke dalam diri kita sendiri, menjadi diri sendiri, mengasihi keberadaan kita sekarang, dan disini, bisa membuat manusia sudah cukup berbahagia. Maka jangan salah, orang miskin pun bisa berbahagia, karena kebahagiaan sebenarnya dapat dicapai tanpa meraih apapun, namun dengan mengubah cara pandang kita terhadap sang kebahagiaan itu sendiri.
  • Ada sebuah peribahasa Cina mengenai kebahagiaan : Jika mata tidak terhalangi, maka hasilnya adalah penglihatan; jika telinga tidak terhalangi, maka hasilnya adalah pendengaran; jika lidah tidak terhalangi, maka hasilnya adalah rasa/pengecapan; dan jika hati tidak terhalangi, maka hasilnya adalah kebijaksanaan dan kebahagiaan.

 Sekian sharing Paskah saya 2012 ini.

Semoga bermanfaat!

Dan semoga semua makhluk berbahagia!

Salam damai,

Antonius Santoso

2 responses to “[SHARING] Makna Paskah 2012 bagiku

  1. mungkin paskah sudah selesai, tapi paskah 2012 ini menjadi pemaknaan terdalam selama ini. melalui tugas yang saya ambil saya mengetahui jika Tuhan meminta saya untuk menjadi pelayan sabdanya. tidak peduli sakit dan kekecewaan saat melayani tetapi itu adalah bumbu dalam menjadi pelayan sabda Nya

    • hallo rio!
      syukurlah kalau sudah menemukan makna paskah thn ini.
      selamat bertekun dalam pelayanan kepada-Nya.
      oya, proficiat untuk suksesnya retreat mipa thn 2012 ini.

      salam, antonius

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s