I am a Vegan and I am healthy (my testimoni 1 year of being a Vegan)

München, 22.Feb.2012

8:00 a.m

Tak terasa sudah 1 tahun saya menjalani gaya hidup Vegan (tanpa mengkonsumsi semua produk daging, ikan, telur, susu, keju, dan turunannya). Tulisan saya kali ini akan berisi testimoni tentang hidup Vegan saya, mengapa saya memilih cara hidup seperti ini, dan bagaimana saya menjadi pemenang dalam setiap tantangan-tantangan yang membuat hidup saya jadi lebih menarik.

Saya mulai dengan pertanyaan yang saya dan orang lain sering ajukan ke diri saya, “Loh Ton, koq pengin jadi Vegan sih? Bukannya itu berat? Daging, ikan, susu, telur apalagi keju, itu kan enak bangettt!!!”

Begitulah biasanya semua orang menanyakan apa motivasi saya menjadi Vegan. Dan saya selalu menjawab seperti ini “Semuanya berawal dari pikiran. Saya menjadi Vegan bukan karena saya tidak suka makan daging, bukan karena agama, bukan karena masalah lingkungan, bukan karena saya pecinta hewan, dan bukan karena anjuran/suruhan orang lain. Saya menjadi Vegan karena pikiran saya. Titik.”

Memang kalau boleh jujur, inisiator pertama kali buat saya adalah masa Pra-Paskah (masa persiapan sebelum Paskah untuk umat Katolik Roma). Artikel sebelumnya silakan klik disini. Saat itu saya berpikir untuk pantang sesuatu yang sangat saya suka, yaitu daging. Dan saya mulai menjalani sejak hari Rabu Abu. Selama kurang lebih 6 minggu saya tidak makan daging. Mengenai produk telur, ikan, susu, keju dan turunannya, saya mulai mengurangi secara bertahap selama 6 minggu itu. Mulai dari setiap hari, kemudian dua hari sekali, tiga hari sekali, empat hari sekali, lima hari sekali, seminggu sekali, sampai tidak pernah sama sekali.

Bagi saya pribadi, pilihan menjadi Vegan adalah hidup yang membebaskan. “Loh, koq membebaskan? Bukannya itu malah mengekang diri namanya?”  Membebaskan disini bukan terbatas cuma pada pilihan menu makan saya, melainkan bagaimana saya memenangkan setiap hari yang bagi saya menantang sebagai seorang Vegan. Saya masih ingat, 1 tahun yang lalu saat sebelum mejadi Vegan, setiap belanja ke supermarket, mata saya tidak bisa lepas dari deretan daging, sosis, susu, dan keju yang sangat melimpah terutama di Jerman ini. Sebagai student biasanya saya memilih harga daging yang murah dan berdiskon🙂 Saya bandingkan, sekarang jika saya masuk ke supermarket, saya langsung menuju ke rak buah-buahan dan sayuran segar, susu kedelai, sereal, dan roti Vegan. Kemudian ke kassa, dan pulang. Saya tidak pernah menyesal, atau pengen “ngintip” apa yang dipajang di rak daging, susu, dan keju. Bahkan saya merasa bebas, merdeka, karena daerah rambahan saya di supermarket menjadi semakin berkurang. Waktu saya berbelanja begitu efektif, cepat, dan efisien. Saya memaknai pilihan hidup saya ini sebagai “Vegetus Libertas” (mengutip kata-kata Dewi Lestari dalam blognya) yaitu hidup yang menguatkan budi. Silakan klik disini.

Testimoni kedua, sebelum menjadi seorang Vegan, saat masih tinggal di Indonesia, saya bekerja di perusahaan swasta selama 4 tahun. Pekerjaan saya menuntut mobilitas yang tinggi di seluruh wilayah operasi perusahaan tersebut di Indonesia. Dan sebagai benefit yang saya peroleh dari pihak perusahaan, saya memperoleh asuransi kesehatan dengan plafon unlimitted / tak terbatas ! Logikanya : Perusahaan ingin saya selalu sehat, dan produktif sehingga bisa menghasilkan bagi perusahaan. Kemudian, bagaimana saya memanfaatkan fasilitas perusahaan tersebut? Karena plafon asuransi kesehatan saya yang unlimitted  / tak terbatas, saya menjadi tidak cermat dan selektif dalam hidup terutama masalah kesehatan saya. Sakit sedikit, berobat ke dokter spesialis. Dan lebih parah lagi, oknum dokter di Indonesia memanfaatkan asuransi kesehatan saya dengan memberikan obat-obatan (khususnya antibiotik) yang sebetulnya tidak saya perlukan. Intinya, selama 4 tahun bekerja, antibodi saya tidak lagi peka dengan penyakit-penyakit ringan seperti flu,dll. Akibatnya saya gampang sakit (hampir tiap bulan saya sakit) dan saya kecanduan/ketagihan efek antibiotik.

Ketika saya mulai kuliah di Jerman, saya mulai berpikir : Saya ingin sehat. Saya selalu sehat, supaya saya bisa fokus studi, dan waktu saya bisa lebih efektif. Saya ingin lepas dari kecanduan antibiotik dari Indonesia.

Bagaimana caranya? Dengan mengubah pola pikir saya tentang makanan. Selama masa 40 hari saya pantang makan daging, saya melakukan riset kecil-kecilan di internet. Saya mulai dari apa itu Vegan / Vegetarian, bagaimana memulainya, apa saja manfaatnya, bagaimana supaya saya tidak bosan dengan menu makan saya, bagaimana saya bersosialisasi dengan orang lain, atau bagaimana saya menjelaskan ke orang lain kalau saya seorang Vegan.

Bagaimana efeknya dengan kesehatan saya, sejak saya menjadi Vegan ? Saya harus akui, efeknya luar biasa! Jauh lebih besar daripada yang saya bayangkan! Dalam periode 1 tahun, saya sakit hanya 1 (satu) kali, dan itupun saya bisa sembuh sendiri selama 10 hari tanpa antibiotik (waktu itu saya flu agak berat, obatnya hanya istirahat yang cukup, dan makan bergizi). Tubuh saya sudah kembali ke performance-nya semula, tanpa ketergantungan pada antibiotik dan dokter.

Kadang saya mulai berpikir, pengetahuan yang saya miliki sekarang mungkin hanya sedikit, namun belum tentu semua orang (khususnya para dokter mengetahuinya), bahwa saya dapat menjadi dokter bagi tubuh saya sendiri, hanya dengan mengubah pola pikir saya, dan percaya pada apa yang saya lakukan. Saya selalu mengatakan pada diri saya : Saya sehat. Hidup saya berdaya. Hidup saya berguna bagi diri saya dan sesama.

Yang paling krusial / menentukan adalah : Mengubah pola pikir saya ! Karena saya mengubah cara pandang saya terhadap makanan, maka saya bisa dan percaya bahwa saya dapat menjalani gaya hidup Vegan seumur hidup saya. Bandingkan pola pikir saya sebelum Vegan : “Makanan adalah semua hal yang saya inginkan, yang mengenyangkan, tidak peduli berapapun harganya, bagaimana makanan itu diproduksi, dan bagaimana kualitasnya”

Bandingkan pola pikir saya saat menjadi Vegan : “Makanan adalah sumber energi tidak hanya bagi tubuh saya, melainkan bagi jiwa saya, sehingga saya percaya, apapun yang masuk dalam tubuh saya, saya adalah orang yang pertama kali harus sadar/aware. Bagi saya : saya adalah apa yang saya pikirkan (I am what I think) dan saya adalah apa yang saya makan / masuk dalam tubuh saya (I am what I eat)”

Dengan mengubah pola pikir tersebut, saya percaya bahwa manusia adalah makhluk yang luar biasa. Saya memperoleh tambahan pengetahuan secara tidak langsung, bahwa manusia adalah makhluk yang sangat berdaya, karena manusia mempunya pikiran, dan dengan pikirannya, dia bisa berbuat sesuatu.

Testimoni ketiga, sejak saya menjadi seorang Vegan, tubuh saya sangat peka (entah dengan makanan dari produk hewani maupun dari kondisi lingkungan). Dan yang lebih penting, hidup saya damai, ayem, dan tentrem. Karena saya percaya bahwa apa yang saya konsumsi ke tubuh saya, saya tidak perlu menumpahkan darah di dalam proses penyajiannya. Dan itu membuat tubuh dan jiwa saya harmonis, dan damai.

Berikut ini tips yang ingin saya bagikan bagi rekan-rekan yang ingin memulai tantangannya menjadi seorang Vegetarian / Vegan :

1. Tanyakan kepada diri Anda : “Mengapa saya ingin menjadi seorang Vegan / Vegetarian?” Dan jika Anda sudah memperoleh jawabannya, yakinkan dan percaya pada apa yang Anda pikirkan!

2. Konsultasi kepada dokter / ahli gizi Anda! Menjadi seorang Vegan /Vegetarian berarti mengubah ritme tubuh Anda, dan belum tentu hal ini cocok bagi setiap manusia. Oleh karena itu, jangan takut berkonsultasi pada dokter / ahli gizi, bagaimana sebaiknya memulainya, bagaimana mengatur menu harian, dan bagaimana menjaga supaya tidak cepat bosan dengan menu yang itu-itu saja.

3. Lakukan riset kecil-kecilan melalui internet, buku, majalah dll. Jangan percaya pada mitos bahwa daging itu menyehatkan, membuat otak pintar, dll. Cek dahulu kebenarannya, apabila ada yang mengatakan fakta tentang daging, cek juga apa yang sudah daging akibatkan pada kesehatan manusia. Silakan klik disini.

4. Tanyakan pada orang-orang di sekitar Anda yang sudah menjalani gaya hidup Vegan / Vegetarian. Contoh konkrit dari saya : selama saya masih dalam tahap “penjajagan” menjadi Vegan, saya beberapa kali berkonsultasi dengan Romo Yohanes Dwi Harsanto (a.k.a Rm.Santo) yang telah 3 tahun lebih menjadi Vegan. Dan saya berkonsultasi pada drg. Chindy Tanjung, yang telah 10 tahun lebih menjadi Vegan. Saya juga berkonsultasi dengan isteri saya yang mengerti soal gizi, dan rekan kerjanya, Ibu Endang, yang juga seorang ahli gizi. Dengan sharing testimoni dari rekan-rekan di sekitar Anda, maka motivasi Anda untuk menjadi Vegan makin terarah / fokus.

5. Jangan brubah drastis! Lakukan proses transisi dari omnivora (pemakan segalanya) ke Vegan / Vegetarian secara bertahap. Karena tubuh juga perlu proses adaptasi ke arah tersebut. Sebagai contoh pada kasus saya : Saya melakukan proses transisi selama 6 minggu, dan setiap minggu saya dengarkan & amati perubahan dalam tubuh saya. Jika tubuh saya tidak protes, maka saya lanjutnya menambah tantangan pada minggu berikutnya, sampai setelah 6 minggu, saya betul-betul telah siap menjadi Vegan / Vegetarian. Intinya : Dengarkan tubuh Anda! Jangan bersikap terlalu kaku/kuat, namun juga jangan lembek dan mudah menyerah!

6. Sejak menjadi Vegan, saya semakin bangga mengkonsumsi tempe, tahu, dan produk-produk turunannya. Bahkan sebagai student di Jerman, saya bisa dengan mudah menemukan tempe dan tahu di supermarket Asia. Saya bangga sebagai orang Indonesia! Dan saya mulai memperkenalkan tempe sebagai makanan asli Indonesia. Kini, bahkan beberapa teman saya di asrama mulai mengkonsumsi tempe secara rutin. Nah, bagaimana dengan Anda yang begitu mudah, dan murah mendapatkan tempe di Indonesia? Tidak kah itu memudahkan niat Anda untuk hidup sehat? I love TEMPE🙂

Steak Tempe (by Chindy Tan)

7. Luangkan waktu untuk memasak! Sebagai student di Jerman, saya harus memperhatikan kondisi keuangan & finasial. Dengan alasan ngirit, dan sehat, sekarang saya terbiasa masak sendiri (khususnya makan malam dan saat weekend). Namun jika makan siang dan tidak ada waktu memasak, pilihan menu Vegan / Vegetarian di Mensa / Cafetaria kampus begitu membantu. Saya bisa tetap menghidupi gaya hidup Vegan dengan budget yang murah.

Jamur Tiram Colo-Colo (by Chindy Tan)

8. Berikan penghargaan pada diri Anda sendiri! Demi menambah motivasi dan konsistensi Vegan saya, saya memberikan penghargaan pada diri saya, berupa pesiar / jalan-jalan saat liburan semester / musim panas / natal & tahun baru. Hal ini akan menambah motivasi dan konsistensi Anda ber-vegan/vegetarian.

9. Bagikan menu masakan Anda pada rekan-rekan / keluarga. Hal yang sederhana yang pernah saya lakukan adalah, memasak menu tempe yang variatif dengan teman se-asrama. Mereka paham bahwa saya seorang Vegan dan mereka menghargainya. Dan saya pun tidak ada masalah jika diajak makan malam bersama dengan mereka. Malahan, saya mengajak mereka memasak makan malam bersama dengan menu tempe, yang divariasi dengan bumbu rempah-rempah asal India / Nepal. Sekarang, setiap weekend, kami rutin memasak bersama, dan makan malam bersama. Intinya : Jadikan Vegan sebagai sebuah tantangan yang menarik, dan jika Anda berhasil melalui hari demi hari, maka Anda akan merasa bahwa hidup Anda adalah satu-satunya hal yang paling Anda syukuri.

Jamur hioko dan lalapan (by Chindy Tan)

10. Luangkan waktu saat weekend untuk makan malam bersama keluarga atau sahabat Anda di rumah makan Vegan / Vegetarian. Tidak hanya sebagai reward / hadiah bahwa Anda telah melalui tantangan ber-vegan selama 1 minggu, namun juga sebagai sarana menambah perbendaharaan menu (Anda bisa menanyakan kepada pemilik restaurant bagaimana menu dan cara membuatnya, dan Anda bisa mulai mempraktekkanya di rumah).

Pizza dan lalapan (by Chindy Tan)

Terakhir dari saya : Hidup Vegan berarti Anda sudah “berdamai” dengan diri Anda sendiri, dan efeknya adalah Anda boleh berdamai dengan Alam Semesta. Dan satu-satunya hal yang manusia inginkan dalam hidupnya adalah : DAMAI !

Semoga kedamaian selalu bersama Anda!

Semoga semua makhluk selalu berbahagia!

Salam, Antonius Santoso

2 responses to “I am a Vegan and I am healthy (my testimoni 1 year of being a Vegan)

  1. Selamat atas 1 tahun ini.. Selamat menempuh tahun-tahun berikutnya dengan sehat dan gembira, dalam berkat Tuhan. Hanya catatan kecil, bahwa Katolik bukan denominasi. Untuk hal ini silahkan klik http://katolisitas.org/5277/yesus-mendirikan-gereja-bukan-denominasi
    Salam dari Jakarta
    YD Harsanto Pr

    • Romo Santo yg baik,

      Terima kasih atas comment-nya.
      Terima kasih juga atas masukannya.
      Saya sudah koreksi tentang gereja Katolik. Maaf salah dlm penulisan.
      Salam dari München,
      Antonius

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s