Tag Archives: Imam diosesan

[Sharing] “Mengapa mau menjadi Imam?”

Artikel diambil dari rubrik kesaksian website katolisitas.org  Klik disini.

Terima kasih Rm.Santo atas kesaksian imannya. Selamat berkarya dan semoga Tuhan memberkati panggilan imamat, romo.

Pengantar dari Editor:
Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr atau yang dikenal dengan Romo Santo, adalah salah seorang dari tim para romo di situs Katolisitas, yang sudah banyak dikenal pembaca melalui berbagai tulisan dan pencerahan yang diberikannya dengan hikmat dan pengetahuan, khususnya dalam bidang pembinaan OMK, serta secara unik dalam kaitan pengalamannya dengan eksorsisme, yang sudah dimuat pula dalam rubrik ini. Kali ini Romo Santo berkenan berbagi kisah perjalanan panggilan hidupnya hingga menjadi seorang imam diosesan. Sebuah pengalaman panggilan yang membumi, kuat, dan nyata, yang diuraikan dengan jenaka dan kerendahan hati. Semoga pengalaman panggilan hidup yang sarat dengan kasih penyertaan Tuhan yang indah ini, meneguhkan perjalanan panggilan hidup kita masing-masing sebagai orang beriman, dan semakin menyuburkan benih-benih panggilan di kalangan kaum muda, untuk ditanggapi dengan kegembiraan dan semangat iman, menjadi pekerja-pekerja yang tangguh di kebun anggur-Nya. Terima kasih Rm Santo, kiranya Allah Bapa senantiasa meneguhkan rahmat imamat-Nya dalam seluruh karya pelayanan Rm Santo bagi Kerajaan-Nya.

Keluarga

Saya lahir dan tinggal di desa yang tenang di Dusun Jogonalan Lor, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, sekitar 1 km dari perbatasan kota Yogyakarta sisi selatan, pada bulan Mei tahun 1972. Ayah saya menjadi Katolik ketika pemuda, dan ibu kandung saya menjadi Katolik sebelum menikah. Kakek nenek dari pihak ibu beragama Islam. Kakek nenek dari pihak ayah beragama Katolik. Saya dibaptis pada tahun 1972 pula oleh pastor Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran, Romo FX. Wiyono, Pr.

Waktu itu, pembaptisan saya berlangsung di rumah kakek dari pihak ibu. Walaupun mereka Muslim, namun perayaan Ekaristi pembaptisan bayi saya itu berlangsung meriah dengan diiringi instrumen musik tradisional Jawa (gamelan). Kakek nenek saya dari pihak ibu memang berpandangan luas dalam hal keagamaan. Saya ialah cucu pertama mereka. Mungkin karena itu pula kakek nenek mengistimewakan pembaptisan saya.

Saya terlahir premature pada tahun 1972. Pada usia kandungan 7 bulan, ibu melahirkan saya. Begitu kecil saya ketika bayi, dan harus selalu dihangati. Ayah

saya mengatakan “seperti tikus saja kamu waktu lahir”, dan memang tahun itu bershio tikus juga, jadi agak pantaslah ..he..he. Sebenarnya saya anak kedua. Setahun sebelum saya lahir, ibu melahirkan kakak perempuan saya yang meninggal dunia pada usia lima hari. Setelah saya, terlahir empat adik saya, dua perempuan, dua lelaki. Kini mereka sudah berkeluarga.

Pengalaman Iman Dalam Keluarga

Kisah ini sebenarnya “post factum”. Karena sudah terjadi bahwa saya menjadi imam, maka jadi teringat kisah ini. Pada tradisi Jawa, ada kebiasaan membuat upacara “tedhak siten” (“menginjak bumi”) yaitu upacara yang manandai anak balita mulai berjalan. Harapannya, tapak kaki pertama kali itu semoga membawa rahmat dan keselamatan sampai tua nanti. Waktu itu saya berkesempatan melakukannya. Karena cucu pertama, maka segala tradisi saya alami. Selain “tedhak siten”, waktu saya berumur 8 tahun (sewindu) diadakan upacara pelarungan plasenta saya yang sudah selama 8 tahun disimpan dalam kendhil dan digantung di ruang paling sakral pada rumah tradisional Jawa. Maksudnya ialah agar langkah hidup selanjutnya lancar. Pada upacara adat “tedhak siten”, balita itu harus berjalan di atas jadah (makanan yang dibuat dari beras ketan), sampai sekitar satu meter di depannya. Di ujung, ada kurungan ayam dari bambu, yang di dalamnya diletakkan aneka barang dan mainan. Jika nanti si anak mengambil atau meraih barang tertentu, maka mungkin penghidupannya tak kan jauh dari apa yang disimbolkan oleh barang tersebut. Saya sudah mengalami beberapa kali melihat upacara adat ini, juga setelah dewasa. Dan biasanya secara berkelakar saja semua itu dilaksanakan, dengan suasana gembira. Banyak yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan orangtua. Ada anak yang ketika “tedhak siten” meraih mobil-mobilan, eh di masa dewasanya bahkan tidak punya usaha yang berhubungan dengan mobil, bahkan mobil pun tidak punya selain hanya sering mengendarai mobil umum. Jadi, sebenarnya upacara ini hanyalah simbol harapan orangtua terhadap anaknya. Jika anak meraih rumah-rumahan atau mobil-mobilan atau uang-uangan maka diharapkan ia kelak akan sejahtera duniawi. Benda apakah yang kuraih pada waktu itu? Pada waktu itu, saya meraih seuntai rosario! Itu karena nakalnya ayah saya saja, karena tiba-tiba beliau meletakkan seuntai rosario di dalam kurungan. Mungkin karena refleks melihat ayah menaruhnya, maka saya raihlah rosario ayah. Mungkin saja nenek kakek dan hadirin lain kecewa, kok yang saya raih rosario. Calon masa depan tidak cerah nih, karena pada masa itu belum banyak pengusaha rosario dan toko barang rohani.. he..he. Tapi dari sisi positif, mereka memaknainya bahwa bisa saja nanti anak ini menjadi ulama.

Saya mendengar dari cerita orangtua, bahwa almarhumah nenek buyut saya dari jalur ayah telah dibaptis Katolik pada era 1960an. Alasan beliau sederhana: jika meninggal nanti, beliau ingin jenazahnya dirias dan berpakaian pantas untuk Tuhan, serta didoakan anak cucu dan orang banyak. Beliau tahu dari melayat bahwa jenazah orang Katolik diberkati, arwahnya didoakan dan penampilan jenazah itu tampak tenang damai, tidak menakutkan. Karena motivasi hidup kekal bahagia itu, tiap dini hari nenek buyut saya berjalan kaki dari rumah ke gereja Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran untuk mengikuti misa pagi. Bahkan sebelum pintu gereja dibuka, nenek buyut saya sudah bersimpuh, berdoa Rosario di depan pintu itu, menunggu dibuka pukul 05.00 WIB.

Walaupun keluarga kami tidak sempurna, namun ada sauh yang kuat bagi saya pribadi yaitu kebiasaan doa bersama. Setiap sore bapak ibu mengajak kami berlima berdoa, baik dari buku doa “Madah Bakti”, maupun yang berbahasa Jawa “Padupan Kencana”. Kami pun didorong aktif di lingkungan kami, lingkungan Emmanuel, dan wilayah Santo Yusuf Padokan untuk ikut doa bersama, kegiatan Sekolah Minggu, Putra Altar, Legio Mariae. Mereka sendiri aktif, maka kami anak-anaknya pun mau tak mau ikut aktif.

Ayah ibu rutin mengajak saya ikut Ekaristi. Saya ingat ketika pertama kali saya melihat lampu tabernakel yang berkelip berwarna merah, saya tertarik lalu berjalan menuju lampu itu, ingin menyentuhnya. Lampu itu selalu menarik perhatian saya. Begitu terus. Sampai suatu malam ketika ikut adorasi Sakramen Mahakudus di gereja, saya mulai bisa bertanya kepada ibu sambil menunjuk ke monstrans, “apa itu”, dan jawaban ibu saya ingat sampai sekarang: “Kae Gusti Yesus” (“Itu Tuhan Yesus”).

Awal Ketertarikan Menjadi Imam

Sejak usia balita saya sudah kenal dengan imam-imam paroki Pugeran yang suka berkunjung atau mampir ke rumah. Yang saya ingat ialah almarhum Romo Alexander Sandiwan Broto Pr, alm. Rm J.S. Tjokroatmodjo Pr, Rm FX Wiyono Pr yang membaptis saya, Rm Y. Harjoyo Pr yang padanya saya menerima komuni pertama dan mengaku dosa pertama kali. Selain para pastor paroki, juga alm. Rm Jan Weitjen SJ suka mengunjungi kampung kami dan mencatat nama-nama umat. Memang Romo Jan Weitjens suka masuk ke kampung-kampung naik sepeda kayuh, dengan tas kulit besar berwarna coklat dan hitam di bagasi dan di batang besi sepedanya. Dari mulutnya sering terdengar dendang lagu-lagu. Kami anak-anak suka sekali jika beliau datang. Kami dorong sepedanya, kami bawakan tas beliau. Kami suka beliau dengan badan yang tinggi besar dan hidung mancung membagi-bagikan gambar-gambar kudus, mencatati nama-nama kami dan saudara-saudara kami, berbincang dengan bahasa Jawa yang sangat fasih melebihi kami, lalu memberkati kami. Dengan jubah putih yang dihiasi benang tisikan di sana sini bahkan ada tambalannya, saya mengalami sosok yang damai dan penuh suka cita. Para pastor itu berpenampilan sederhana namun terasa tenteram dan gembira berada di dekat mereka. Para imam / pastor ini secara berkala memberikan “wulangan agama” yaitu pelajaran/pengajaran iman Katolik”, perayaan Ekaristi, serta kunjungan umat dari rumah ke rumah, mendoakan yang sakit, mendengarkan pengakuan dosa / Sakramen Tobat dan memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Di kawasan pedesaan kami waktu itu, kebiasaan ini membuat kami semua merasa “Katolik banget”, dalam arti, iman kami teguh dan kami makin mantap mempraktekkan iman Katolik. Kami mengasihi para imam kami yang mendedikasikan diri sepenuhnya untuk keselamatan jiwa-jiwa umat yang dikasihi Kristus. Itulah benih panggilan yang pertama.

 Benih yang kedua ialah kebiasaan doa dan kekaguman pada otoritas Gereja dalam imamat. Kebiasaan doa keluarga dan pribadi, serta berkala mengikuti Ekaristi, keaktifan sebagai putra altar dan legioner Maria, membuat saya sejak kecil mengalami keakraban dengan Gereja, imamat, sakramen. Karena itu, ketika melanjutkan sekolah di SMP negeri dan SMA negeri, saya mengalami pula bahwa tantangan pluralitas di sekolah negeri itu justru membuat kami dan teman-teman seiman terdorong untuk membuat persekutuan doa, retret angkatan, Natalan, dan Paskahan sekolah. Pendek kata, harus berdoa bersama. Kesukaran dan hambatan justru menantang kami waktu itu. Sewaktu SMA, saya rajin setiap malam setelah pk 21.00 bersama seorang teman bersepeda dari rumah ke gua Maria di kompleks gereja Pugeran. Kami berdoa Rosario dengen intensi masing-masing. Waktu itu intensi saya hanya satu: Jika Allah berkenan, saya ingin masuk seminari dan ingin menjadi imam. Sedangkan teman saya yang usianya lebih tua itu ingin bekerja dan memiliki pasangan hidup Katolik yang baik. Setiap Jumat pertama saya dan teman saya ke makam Romo Sandjaja di Muntilan, dan membuat doa yang sama. Saya kira Bunda Maria tahu bagaimana memperbincangkan permohonan kami kepada Kristus, sehingga Kristus tak bisa menolak. Nyatanya kini saya menjadi imam, dan teman saya menjadi kepala keluarga Katolik yang baik.
Pada waktu SMP, saya menerima Sakramen Krisma dari Mgr Julius Darmaatmadja SJ (1985). Untuk pertama kali saya berjumpa dengan uskup, yang selama ini hanya saya sebut namanya dalam doa dan saya lihat gambarnya. Ketika saya SMA, Paus kita waktu itu, Bapa Suci Yohanes Paulus II, berkunjung ke Indonesia termasuk ke Yogyakarta (Oktober 1989). Jadi, saya berjumpa dengan uskup sekaligus paus di wilayahku pula. Para anggota misdinar di wilayah dan paroki se kevikepan DIY, dikerahkan untuk ikut ambil bagian dalam perjumpaan iman dengan Sang Gembala utama ini, wakil Kristus di dunia. Bukan kebetulan, dengan jelas saya berada di belakang panggung tempat Bapa Suci memimpin Ekaristi di lapangan dirgantara kompleks TNI-AU Yogyakarta. Saya melihat beliau dengan jelas, mencermati setiap kata beliau, dan mengalami suka cita. Inilah artinya menjadi Gereja, berada dalam otoritas kegembalaan yang dibuat oleh Tuhan Yesus sendiri. Saya berkenalan dengan nyata, apa arti hierarki Gereja. Saya menjadi tahu, mengapa kakek saya menjadi begitu taat pada romo. Mengenai hierarki ini saya terinspirasi pula oleh pengalaman remeh namun esensial. Pada suatu hari, alm. Romo Sandiwan Broto datang berkunjung ke rumah kami. Waktu itu saya belum masuk SD. Saya ingat peristiwa ini dengan baik. Kakek mengajak saya menemui romo. Sambil saya dipangku kakek, saya dipeganginya dan saya terpaksa mengikuti pembicaraan dua orang tua ini. Saya bosan, ingin lepas dari pangkuan kakek, namun takut. Di mata saya, kakek memang menakutkan, apalagi kalau marah. Mungkin karena melihat saya gelisah, Romo Sandiwan meminta kakek agar jika cucunya ini ingin bermain biarlah saja bermain. Karena perintah itu, maka kakek melepaskan saya, yang dengan lega segera berlari sambil berteriak “Maturnuwun, Romo” (Terima kasih, Romo). Pikir saya, jika kakek yang kepadanya saya takut saja taat pada imam, apalagi terhadap uskup dan paus dan Tuhan Yesus. Kalau nanti saya jadi imam, tentu kakek akan takut pula pada saya… ha..ha..ha. Kakek dipanggil Tuhan pada bulan September tahun 1984, jauh sebelum saya masuk seminari pada tahun 1991 dan ditahbiskan di tahun 2000, sehingga saya tidak bisa berlagak di hadapan beliau ..ha..ha..ha. Ternyata hierarki itu indah. Karena dengan ketaatannya pada perintah Rm Sandiwan, kakek melepaskan saya dari kebosanan untuk hadir dalam urusan yang tak kuketahui.
Benih ketiga ialah ketika saya ingat ingin menerima komuni padahal belum saatnya, yaitu sewaktu saya berumur sekitar 5 atau 6 tahun. Saya merengek-rengek minta komuni. Waktu itu tahun akhir era 1970an belum ada kebiasaan “komuni dahi” alias pemberkatan anak-anak pra komuni pertama. Maka saya begitu iri melihat orang-orang dewasa antre menerima komuni. Saya tahu dari keterangan ibu bahwa itu Tuhan Yesus. Maka menyentuh pun anak kecil tidak boleh. Padahal saya lihat imam di altar menyentuh pertama kali Tubuh Kristus. Saya ingin menjadi imam, agar bisa pertama kali menyentuh Tubuh Kristus dan menyantap-Nya. Kelak, setelah saya imam, saya akan makin tahu lebih mendalam kebenaran kata-kata Tuhan “Inilah Tubuh-Ku… Inilah Darah-Ku” bahkan dengan kata-kata saya sendiri Tuhan mau mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Saya tertegun ketika mengenangkan bahwa sejak kecil saya sudah ingin menyentuh rahasia yang teramat agung ini.
“Gunung Besar” dan “Among Sukma”
Pada usia SMP, saya membongkar gudang kakek. Saya menemukan sebuah buku stensilan tipis, tua, kumal, milik salah satu paman saya, berjudul “Gunung Besar – Pemandangan tentang Imamat”, terbitan Ende tahun 1950an. Di situ saya membaca mengenai imam-imam yang bekerja di antara suku Indian, yang disebut “Gunung Besar”, karena gunung yang besar selalu memberi petunjuk jalan di padang luas. Ketertarikan saya menjadi imam semakin membesar karena buku tersebut. Di situ ditulis antara lain betapa dunia membutuhkan imam-imam, sejak di samudera, di puncak gunung, di kutub, di kota besar, di pelosok hutan, semua ada jejak-jejak para imam Tuhan yang kudus untuk membawakan Kristus pada jiwa-jiwa dan membawa jiwa-jiwa pada Kristus. Buku kedua yang saya temukan ialah buku berbahasa Jawa, “Among Sukma”, (mungkin bisa diterjemahkan “Bimbingan Jiwa”) karangan AMDG, terbitan Kanisius Jogja tahun 1950an, yang berisi arahan untuk apa hidup di dunia, semacam katekismus dan doa-doa. Di situ dikatakan mengenai kebenaran Kristus dan bahwa tujuan di dunia ini harus menuju surga. Karena itu, diperlukan Tuhan sendiri dalam sakramen-sakramen. Saya menyimpulkan bahwa untuk itulah imam-imam diperlukan, karena tanpa imam yang menerima Sakramen Imamat, tiada Sakramen tanda kehadiran Kristus. Dan saya merasa “wow” dengan kedua buku kumal itu. Menjadi imam? Hhmm… ini bukan hanya profesi seperti halnya notaris, fisikawan, ahli teknik, yang setelah mati akan menghadapi pertanyaan Yesus: “Apa gunanya kamu memperoleh seluruh dunia jika kehilangan nyawamu sendiri?” Imam ialah panggilan untuk keselamatan kekal. Bagaimana Tuhan bisa berkarya jika tidak ada orang yang menyediakan diri menyambut rahmat-Nya dan dibimbing menuju keselamatan? Ketika saya kelak bertugas di paroki Kebon Dalem (2005-2008), umat menjuluki saya “Tan Thay San” yang artinya mirip dengan buku yang pernah saya baca ketika SMP: “gunung yang besar”.

Pada September 1989, sebulan sebelum Bapa Suci Yohanes Paulus II datang ke Yogyakarta, ibu kandung saya dipanggil Tuhan. Suatu kehilangan besar setelah beberapa lama beliau menderita sakit oleh karena kanker. Sebelum ibu meninggal, dalam keadaan sakitnya, saya mengatakan pada beliau bahwa saya mau masuk seminari. Hanya satu yang saya ingat sebagai pesan beliau: “Mau masuk seminari? Apa bisa kamu? Romo-romo itu kebanyakan perutnya gendut. Mungkin karena kebanyakan minum anggur. Tapi kalau nanti jadi imam, perutmu jangan gendut”. Beliau meninggal sebelum saya masuk seminari. Saya tahu, ibu selalu mendoakan saya dan kami semua dari surga. Ketika dalam sakitnya yang sangat parah di malam hari, terdengar ibu menyanyikan lagu “nDherek Dewi Mariyah”, yang membuat saya di kamar sebelah meneteskan air mata dan turut berdoa. Kini terbukti, sampai sekarang perut saya tidak gendut. Mungkin ibu khawatir dengan kesehatan saya sehingga selalu mendoakan saya agar jadi imam yang sehat.

Tahun berikutnya, seorang ibu yang baik menggantikan posisi ibu kandung saya. Beliau menjadi pendamping sambungan bagi ayah saya, sekaligus pembimbing kami yang waktu itu masih kecil-kecil. Ibu sambung saya ini luar biasa. Beliau setiap hari mengikuti misa harian dan aktif di berbagai kegiatan Gereja dan masyarakat. Beliau dekat dengan para romo dan keluarganya sebagian besar Katolik, bahkan ada beberapa imam pula. Saya merasa bahwa Tuhan tidak pernah lalai, jika mengincar orang agar jangan sampai lepas. Saya yang sebenarnya rapuh dan pendosa, justru dikelilingi oleh orang-orang kuat yang dikirimkan Tuhan sendiri agar saya dikuatkan untuk menanggapi kepentingan Tuhan saja. Salah seorang oom saya menasihati: “Kalau niat kuat, pasti jadi karena niat kuat itu pun rahmat Tuhan”. Tapi seorang oom lain yang beragama Islam mengatakan: “Kamu mau jadi romo? Apa bisa?” Kakek saya yang Muslim mengatakan: “Cucunya kakek ya pasti bisa”. Saya tertawa saja dan gembira mendengar dukungan mereka dengan kalimat yang berbeda-beda itu. Sebelum masuk seminari, saya telah pernah mengunjungi seminari menengah Mertoyudan Magelang ketika ada program kunjungan ke Biara OCSO Rawaseneng dan Seminari Mertoyudan yang diadakan paroki dan program agama Katolik di SMP negeri itu. Karena itu saya sudah melatih diri, tidur di papan tanpa kasur, belajar berefleksi dan menuliskan pengalaman. Saya pun memiliki koleksi “Aquila”, bulletin Seminari Mertoyudan yang entah dari mana kutemukan di gudang oom saya. Katanya, dia mendapatkan dari temannya yang eks seminaris.

Tahun 1991, saya mendaftarkan diri ke seminari dan maju menghadapi testing. Ujian tertulis saya lalui dengan baik. Pada pertanyaan wawancara, Rm Gustawan SJ menanyai saya: “Mengapa mau menjadi imam?” Saya menjawab dengan mantap: “Karena ingin”. Sahut beliau: “Ingin apa?” Saya jawab “Ingin menjadi imam”. Beliau tersenyum, lalu meminta saya membaca Injil dalam bahasa Inggris yang beliau sodorkan sekaligus meminta saya menerjemahkannya. Saya tidak tahu apakah jawaban saya itu masuk akal. Namun ternyata sebulan kemudian alm. Romo JS Tjakraatmadja Pr menggamit saya setelah misa di wilayah, lalu memberikan surat dari seminari bahwa saya diterima. Saya bersyukur pada Allah.

Menanggapi Panggilan Tuhan

Saya menjalani masa seminari menengah program KPA (Kelas Persiapan Atas) di Mertoyudan selama satu tahun (1991-1992). Kemudian melanjutkan di Seminari Tahun Rohani Keuskupan Agung Semarang di seminari “Sanjaya” Jangli, Karangpanas, Semarang (1992-1993). Selanjutnya menempuh pendidikan filsafat-teologi di Fakultas Teologi Kepausan Wedhabakti Yogyakarta (1993-2000) dan tinggal di rumah pembinaan Seminari Tinggi St Paulus Jl Kaliurang KM 7, diselingi Tahun Orientasi Pastoral di Paroki St Yohanes Rasul Wonogiri (1996-1997), dan Semester Diakonat di Paroki St Maria Fatima Sragen (2000), sebelum ditahbiskan menjadi imam 12 Juli 2000 oleh Mgr Ignatius Suharyo di gereja St. FX Kidul Loji Yogyakarta.

Yang menarik dari proses pendidikan itu ialah selain ilmu filsafat dan teologi yang memaksa kita berpikir logis, runtut dan berdasar, juga mengenal dan bersikap terhadap pemikiran filsafat yang mendasari ilmu-ilmu, serta kebiasaan refleksi iman. Selain itu, hidup bersama sebagai komunitas asrama membuat kami semua mengenal diri dengan lebih baik, serta belajar memahami sesama. Yang tak kalah penting ialah pembiasaan belajar dan merefleksikan tradisi Katolik dalam praktek, di mana di dalamnya kami disertai Allah sendiri. Terlalu banyak yang istimewa dalam masa pendidikan ini. Yang terpenting ialah motivasi untuk imamat dimurnikan sampai sungguh-sungguh hanya untuk Kristus dalam Gereja-Nya. Yang motivasinya akhirnya berbalik untuk berkeluarga, akan keluar dari seminari dan membangun keluarga Katolik yang baik. Teman-teman saya baik yang terus bersama sampai imamat maupun yang kini menjadi bapak rumah tangga, semua merasakan bahwa pendidikan di seminari oleh para staf seminari dengan segala dinamikanya memungkinkan kami bertumbuh dewasa sebagai orang beriman yang manusiawi. Saya bersyukur atas mereka dan mendoakan para staf seminari, semoga mereka selalu tabah dan gembira dalam mendampingi dan membina para seminaris. Tentu saja pengalaman seorang imam di paroki, lain pula dengan pengalaman imam di kantor KWI seperti saya saat ini, lain pula dengan pengalaman para imam yang mendampingi para calon imam.

Saya memiliki pembimbing rohani yang baik, yang selalu menanyakan hal ihwal perkembangan rohani saya. Pengakuan dosa rutin dan percakapan rohani rutin selalu kami buat, agar perkembangan terpantau dengan benar. Saya pernah mengalami krisis karena tuntutan studi yang berat dan kejenuhan. Namun manakala dibicarakan dengan pembimbing menjadi jelas lagi untuk apa aku mempelajari filsafat dan teologi yang berat, untuk apa dipanggil, dan karenanya mau bersemangat lagi. Aku dipanggil untuk imamat yang menghadapi dunia yang tak dipungkiri, penuh penyesatan untuk menolak kasih Allah. Maka ilmu-ilmu itu penting untuk membekali diri, dan juga untuk membimbing diriku sendiri agar sampai pada kebenaran.

Imamat : Disponibilitas untuk Pengudusan Diri, Komunitas, dan Masyarakat

Sewaktu tahbisan, kakek dan nenek saya yang Muslim seperti biasa selalu mendukung saya. Mereka hadir dalam perayaan Ekaristi tahbisan itu. Saya merasa diteguhkan oleh doa dan perhatian mereka. Kakek saya memeluk saya…”Cucuku, Nak, Romo hehehe”, katanya dengan haru. Kakek dan nenek dengan pakaian kopiah dan jilbab mendampingi saya berfoto dengan pakaian imamat saya. Kini kakek saya yang Muslim ini sudah meninggal. Namun dalam doa-doa saya, saya selalu mengingat beliau bersama almarhumah ibu kandung saya. Bagaimanapun, saya merasakan dukungan keluarga dalam menanggapi panggilan imamat ini. Tugas pertama saya setelah tahbisan ialah menjadi pastor pembantu (pastor rekan) di Paroki SPM Bunda Penasehat Baik, Wates, Kulonprogo (2000-2004), SPM Tak Bercela, Kumetiran, Yogya (2004-2005), St. FX Kebon Dalem, Semarang (2005-2008), dan KWI (2008 – sekarang) . Saat saya di paroki-paroki itu saya merangkap tugas sebagai Ketua Komisi Kepemudaan Kevikepan DIY (sampai th 2005), kemudian merangkap Ketua Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang (ini sama dengan komisi Kerawam di keuskupan lain), serta moderator Pemuda Katolik Jawa Tengah. Ketika sedang asyik dengan tugas di Kebon Dalem, saat itu bulan Januari 2008 menjelang tahun baru Imlek, uskup meminta saya pindah ke Jakarta untuk bertugas di Komisi Kepemudaan KWI. Bagi saya yang sudah berjanji di hadapan uskup agar taat, tidak ada kata lain selain “siap laksanakan”. Walaupun hati galau, namun nanti pasti Tuhan mengirimkan kekuatan dan gairah baru di tempat dan jenis perutusan yang baru.

Teman-teman imam lain pun sebenarnya mengalami banyak perkara baik yang mirip satu sama lain maupun yang unik. Jika mereka mau berbagi, sebenarnya akan makin kaya Gereja kita dengan pengalaman iman akan panggilan imamat. Bagi saya, disponibilitas (kesiapsediaan) untuk berganti tempat perutusan, bahkan berganti bentuk perutusan, tetaplah mutlak harus dihayati, karena sebenarnya tugas panggilan terakhir ialah beralih dari dunia ini menuju Dia yang memanggil kita.

 Ada kisah yang memalukan namun membuat saya makin sadar akan arti dan tujuan hidup. Tuhan tak kekurangan cara untuk mendidik anak-anak-Nya. Ketika SMA, beberapa kali klab voli kampung saya bertandang ke kampung-kampung sebelah untuk pertandingan persahabatan maupun kompetisi antar desa. Saya adalah supporter fanatik klab voli kampung saya. Pada suatu sore, klab voli kampung saya bertandang ke kampung sebelah untuk bertanding. Saya menonton. Saya berboncengan dengan seorang tetangga, naik sepeda saya menuju lapangan voli kampung sebelah. Pertandingan berlangsung seru. Entah karena apa, di tengah laga, emosi pemain dan supporter tersulut. Dengan gaya kampung(an), terjadilah perkelahian antar supporter dan antar pemain. Dalam suasana huru-hara antar supporter itu, kami terdesak. Saya ikuti tetangga saya lari, karena memang “pasukan” kami kocar-kacir. Kami lari dikejar dan dilempari batu dan kayu. Sambil berlari, kami lihat ada sebuah sepeda tergeletak di tepi jalan. Teman saya segera menaikinya dan saya turut mendorong lalu membonceng. Laju sepeda lebih cepat dari kecepatan para pengejar. Kami selamat sampai di rumah. Barulah di rumah saya tersadar, sepeda saya masih tertinggal di “wilayah musuh”. Wah, bingung. Sore harinya, saya mencoba nyantai di teras rumah sambil menenangkan diri. Tiba-tiba ada seorang polisi dari Polsek Kecamatan Kasihan mendatangi dengan sepeda motor. Tetangga saya diboncengkannya. Saya diminta ikut dalam boncengan. Saya bingung tapi ikut saja. Kami dibawa ke ke tahanan polsek. Bapak polisi menanyai kami satu per satu. Saya dituduh mencuri sepeda atau setidaknya membantu pencurian sepeda. Aduh! Ternyata pemiliknya lapor ke pak polisi. Kami dimasukkan dalam sel. Berpintu besi dan gelap serta pesing. Saya sedih sekali. Untung saya tidak disakiti oleh bapak-bapak polisi itu. Saya memang mengakui menumpang naik sepeda itu. Tapi sepeda saya sendiri ketinggalan. Pak Polisi tidak mau berargumen. Saya tetap di sel. Dalam keadaan seperti itu, saya teringat kisah St Paulus dan Silas ketika di penjara. Saya membaca kisah itu di komik Alkitab karangan HA Opusunggu yang dibelikan ayah waktu SD dulu. Maka saya ajak tetangga saya itu berdoa, agar dibebaskan seperti Paulus dan Silas dulu. Saya berdoa Bapa kami dan Salam Maria tiada henti. Wah, mengalami dalam sel, seperti rasul St Paulus, hanya berbeda sebab, beliau karena Injil, saya karena tuduhan mencuri sepeda. Tak sampai satu jam di sel, pintu sel dibuka, kami diminta keluar. Ternyata ada tetangga kami yang polisi mengeluarkan kami. Kami diboncengkan pulang. Sampai di rumah, ibu saya memarahi saya habis-habisan. Keesokan harinya sepeda saya sudah dibawa ke rumah oleh warga kampung sebelah.
Dari situ saya merenungkan tujuan hidup manusia. Sel tahanan yang pengap itu dipakai Tuhan untuk menyadarkan saya, betapa dunia ini tidak pasti dan rapuh sekali. Hanya satu yang pasti dan kuat ialah Kasih Tuhan, pertolongan-Nya, kehendak-Nya yang pasti. Tinggal saya sendiri mau ikut Dia atau ikut keinginan sendiri. Terimakasih Pak Polisi, Anda membuat saya sadar akan bahaya-bahaya dalam kehidupan, syukur kepada Allah pertolongan-Nya tepat waktu.
Kini saya suka menanggapi tawaran kelompok pelayanan penjara untuk mengunjungi para warga binaan di penjara. Waktu bertugas di Wates, tetangga pastoran ialah penjara dan kami layani sakramen Ekaristi dan tobat. Di Semarang saya diajak melayani warga binaan di penjara Kedungpane dan Bulu. Di Jakarta saya mengunjungi LP Cipinang, Salemba, Pondok Bambu. Karena peristiwa masuk sel satu jam, saya menjadi punya hati untuk pelayanan ini, menanggapi sabda Kristus: “Ketika Aku dalam penjara, kamu mengunjungi Aku”.

Uniknya, menerima tahbisan imamat tidak mengubah kepribadian dan watak, namun sangat membantu untuk mewartakan Injil dan menjadi saksi Kristus. Maka tugas saya dan para imam lainnya ialah, menyesuaikan perilaku kami dengan status imamat yang kami terima. Hal ini banyak dibantu oleh doa-doa umat dan keluarga. Tidak mudah, namun hal inilah yang menantang dan menggairahkan saya untuk terus hidup dalam imamat, termasuk dalam semua yang saya alami: kerapuhan, kesepian dan kegagalan, keberhasilan dan sanjungan. Dalam tugasnya, imam bersinggungan dengan masyarakat dan tokoh agama-agama lain, demikian pula saya. Yang saya rasakan ialah bahwa imam Kristus ini kendati sama-sama tokoh agama bersama tokoh agama lain, toh memiliki kekhasan. Dalam acara doa bersama, saya tidak mau hanya berdoa. Tidak segan saya memberkati semua yang hadir, karena bagi saya, hanya imam Kristus dengan tahbisan yang diturunkan sejak Kristus melalui para rasul hingga kini dan selamanya, berhak memberikan berkat dan Tuhan berkenan memberikan berkat-Nya jika imam–Nya memberikan berkat. Dalam berkat itulah ketahuan mana hadirin yang Katolik, yaitu mereka yang menandai diri dengan tanda salib, sehingga saya pun meneguhkan iman mereka pula. Saya sendiri pun diteguhkan dengan berkat Allah itu.

Pesan bagi OMK dan Orangtua

Saya teringat buku lama “Gunung Besar: Pemandangan tentang Imamat” bahwa dunia membutuhkan imam-imam, untuk menguduskan komunitas, masyarakat, dan diri sendiri. Semoga sharing saya yang sederhana saja ini menggugah banyak orang muda, untuk berani menempuh jalan menuju imamat walaupun berliku dan tidak mudah. Tuhan memanggil kita bukan untuk bermudah-mudah, namun Dia akan menguatkan. Tuhan tidak menunggu kita sempurna untuk mewartakan damai dan suka cita-Nya sebagai imam, nabi dan raja. OMK beranilah memutuskan untuk mendaftarkan diri ke seminari-seminari, juga ke biara-biara, tidak usah menunggu sempurna dulu baru mau dipanggil.

Semoga para orangtua mendoakan dan mempercayai anaknya jika mereka mau menjadi imam. Banyak orangtua khawatir jika anaknya masuk asrama seminari, bagaimana nasibnya nanti? Percayalah, Tuhan akan beri 100 kali lipat sesuai janji-Nya. Bagaimana nanti jika orangtua sakit, siapa yang akan perhatikan? Menurut pengalaman saya, saya bisa lebih bebas mengunjungi orangtua karena bisa atur waktu lebih leluasa daripada adik-adik saya yang berumah tangga dan juga bekerja di luar kota dan di luar negeri. Jika anak Anda menjadi imam, janganlah khawatir, Anda justru mengalami rahmat berlimpah dalam persahabatan dan damai di hati. Sabda Tuhan “Jangan khawatir” tetap berlaku di sini.

Pada beberapa kali kesempatan “Minggu Panggilan”, ayah dan ibu saya diminta memberikan sharing di gereja di hadapan umat yang hadir. Pertanyaan moderator biasanya ialah: “Apa resepnya sehingga anak Anda menjadi imam?” Ayah saya biasa menjawab: “Tidak tahu. Berjalan begitu saja dan saya melakukan tugas yang bisa saya lakukan sebagai ayah Katolik, lalu tiba-tiba dia mau masuk seminari, yah.. bagaimana mungkin ada resep? Itu urusan Yang memanggil dan dia sendiri!”. Dan dalam hal ini beliau jujur, karena saya tertarik menjadi imam bukan karena ayah saya mendorong. Saya ingin menjadi imam karena mengenal imam-imam dan mengasihi mereka. Ayah saya hanya tidak mau menghalangi kemauan saya menjadi imam, juga tidak mau membebani saya dengan idealismenya sendiri mengenai imamat. Itu saja peran dia. Pertanyaan moderator berikutnya: “Apa kekhawatiran Anda ketika anak Anda masuk seminari dan menjadi imam”. Ayah saya lagi-lagi menjawab dengan tanggapan yang tidak sesuai dengan keinginan moderator dan hadirin: “Saya tidak khawatir. Itu urusannya sendiri dan Tuhan kita. Saya pun tidak khawatir dengan anak-anak saya yang lain yang menikah. Biarlah mereka urus sendiri urusannya. Tentu saja saya mendoakan mereka, dan imam-imam, namun saya berdoa bukan karena khawatir apapun tentang mereka. Saya percayakan saja pada Yang memanggil”. Jika boleh menambahkan, bahkan almarhumah ibu saya hanya khawatir jika perut saya gendut, suatu hal yang tak ada hubungannya dengan imamat. Saya setuju dengan sikap orangtua saya yang mempercayai anak-anaknya, memberi ruang bagi anak-anak untuk bertumbuh sehat secara jasmani, psikis, sosial, intelektual, dan rohani, dan membiasakan kami bergaul dengan imam-imam. Wajar saja, tidak dibuat-buat. Jika imam memiliki kelemahan, itu pun wajar saja. Jika ia “berprestasi” maka apa sih “prestasi” tertinggi seorang imam selain kesetiaan dalam panggilan dan perutusan sehari-hari? Sesuatu yang sebenarnya bukan “prestasi” namun yang memang sudah seharusnya. Orangtua saya tidak menuntut apapun dari saya, selain doa dan berkat, karena memang saya tidak bisa membantu apa-apa selain doa dan berkat. Yang saya ingat ialah, ayah dan ibu suka menceritakan kegembiraan dan kelucuan imam-imam yang mereka jumpai, yang membuat kami tertawa gembira. Selebihnya pasti Tuhan sendiri yang memanggil, mengutus, dan menyempurnakan.

 Persaudaraan Imam-Imam

Setelah jadi imam, saya tergabung dalam UNIO Keuskupan Agung Semarang. Setelah pindah Jakarta, Agustus tahun 2011 di Sintang, saya dipercaya teman-teman menjadi sekretaris Unio Indonesia. Unio ialah asosiasi imam-imam diosesan atau keuskupan atau disebut juga imam-imam “praja”. Silahkan klik http://unio-indonesia.org/. Saya makin diteguhkan dalam panggilan imamat oleh persaudaraan ini. Dalam pelayanan sakramen dan doa-doa ibadat harian, kami saling mendoakan satu sama lain. Kami imam-imam keuskupan taat pada uskup dalam melayani umat keuskupan. Namun imam-imam diosesan yang bertugas di luar keuskupannya sendiri taat pada uskup di keuskupan di mana mereka tinggal. Mengapa saya memilih menjadi imam “praja” Keuskupan Agung Semarang? Pertama-tama karena saya hanya ingin menjadi imam, yang bahasa Yunaninya Presbyter, atau dalam bahasa Inggris Priest atau sering disingkat Pr. Saya tidak ingin menjadi biarawan. Lagi pula, saya waktu itu ingin bertugas di paroki saja yang dekat dengan rumah dan keluarga, melayani umat sekitar saya di keuskupan saya sendiri, menjadikan Gereja keuskupan saya menjadi berkat bagi masyarakat. Namun kehendak Tuhan sementara ini ialah saya harus bertugas di KWI, berlokasi di Jakarta, dan karenanya harus meninggalkan keuskupan saya untuk tinggal di Jakarta. Ternyata peristiwa ini membuka perspektif iman saya akan arti ketaatan imamat dan arti imamat itu sendiri yang universal. Saya merasa bersyukur bahwa imamat itu satu sumber dan menuju ke tujuan yang sama. Saya sebagai imam diosesan, berjumpa pula dengan imam-imam yang sekaligus biarawan. Mereka sebenarnya biarawan, namun ditahbiskan menjadi imam. Maka baik imam diosesan maupun biarawan, semuanya satu dalam ketaatan pada Satu Tubuh Kristus yaitu Gereja Katolik.

Doa
“Ya Allah, Bapa Maharahim. Sepanjang sejarah, Engkau memanggil para nabi, raja-raja dan para imam sesuai kehendak-Mu. Engkau bahkan mengutus Yesus Kristus Putera-Mu menjadi manusia, wafat dan bangkit bagi kami, dengan demikian Dia menjadi imam agung kami. Panggilah orang-orang muda seturut kehendak-Mu, dan bukalah hati para orangtua, agar mau berserah akan kehendak-Mu yang pasti. Biarlah atas kuat kuasa-Mu, di seluruh dunia muncul imam-imam dan uskup-uskup yang kudus, yang bergembira dan bersemangat untuk mengembangkan Gereja , untuk menghadirkan Kristus dalam Roh Kudus demi tercapainya tujuan hidup manusia yaitu bahagia abadi dalam Dikau. Dengan pengantaraan Kristus imam agung kini dan selama-lamanya. Amin.”

Jakarta, 5 Maret 2012.
Yohanes Dwi Harsanto Pr